Selasa, 05 Mei 2026

Puisi Anak Rantau

 Puisi: Amanat yang Diam


Ia berjalan tanpa nama besar,

hanya langkah kecil sejak kanak,

menyusun makna dari huruf-huruf suci,

tanpa tahu ke mana arah akan memanggil.


Tujuh belas hampir genap,

sebuah amanat jatuh

bukan pilihan, bukan pula rencana,

hanya suara yang tak sempat ia bantah.


Di dalam dirinya ada ragu,

“aku belum cukup,” bisiknya pelan,

hukum-hukum masih seperti kabut,

namun jalan justru meminta ia menjadi cahaya.


Ia mengajar,

bukan karena merasa tahu,

tetapi karena belajar untuk tunduk

pada sesuatu yang lebih dalam dari logika.


Baginya, ilmu bukan milik,

bukan pula alat menimbang untung,

ia memilih berdagang pada dunia,

agar hatinya tetap bebas saat memberi.


Dan di antara sunyi yang ia jalani,

ia mulai mengerti

bahwa kadang takdir tak menunggu siap,

ia hanya menunggu bersedia.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda